Jumat, 15 April 2011

KEBUTUHAN ISTIRAHAT TIDUR

Kata ”Istirahat” mempunyai arti yang sangat luas meliputi bersantai, menyegarkan diri, diam menganggur setelah melakukan aktivitas, serta melepaskan diri dari apapun yang membosankan, menyulitkan dan menjengkelkan, dengan demikian, apat dikatakan bahwa istirahat merupakan ledakan yang tenang, rileks tanpa tekanan emosional dan bebes dari kecemasasn, (Ansietas).


Definisi Tidur


Turpin (1986) dalam Leahy & Kizilay (1998, p. 700) mendefinisikan tidur sebagai suatu keadaan dimana organisme secara reguler, berulang, dan mudah kembali lagi (reversible) ditandadi oleh keadaan yang relatif diam/tanpa gerak dan meningkatnya ambang respon terhadap stimuli eksternal.


Martini (2001) mendefinisikan tidur sebagai suatu keadaan tidak sadar (unconciousness) tetapi dapat dibangunkan dengan perangsangan sensori yang sesuai. Adapula pendapat lain yang mendefinisikan tidur sebagai perubahan keadaan kesadaran yang terjadi secara terus-menerus dan berulang untuk menyimpan energi dan kesehatan (Potter & Perry, 1993, p. 1146).


Berger & William (1992, p. 1317) mendefinisikan tidur sebagai ritme fisiologis yang komplek dan normal, yang melibatkan perubahan keadaan kesadaran dari seorang individu yang dapat dibangunkan oleh stimulus yang tepat.


Guyton (1996, hal. 945) yang mendefinisikan tidur sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana orang tersebut dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya.


Kozier (1995, p. 953) definisi tidur telah mengalami evoluasi. Secara historis, tidur dianggap sebagai suatu keadaan tidak sadar (state of unconsciousness). Sedangkan menurut konsep terbaru, tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan sadar (state of consciousness) dimana persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan menurun. Tidur merupakan proses fisiologis yang komplek. Ia melibatkan serangkaian keadaan yang dipertahankan fungsi luhur dari aktivitas system saraf pusat yang berkaitan dengan perubahan-perubahan pada system saraf perifer, endokrin, kardiovaskuler, respirasi, dan system muskuloskeletal (Hoch, Reynolds, 1986; Closs, 1988 dalam Potter & Perry, 1993). Setiap sekuensinya dapat diidentifikasi melalui respon perilaku spesifik, respon fisiologis, dan pola aktivitas otak. Beberapa instrumen dapat digunakan seperti elektroensepalogram (EEG), yang dapat mengukur aktivitas listrik di dalam kortek serebri, elektromiogram (EMG), yang dapat mengukur tonus otot, dan elektrookulogram (EOG), yang dapat mengukur gerakan mata. Kesemuanya itu dapat memberikan informasi tentang aspek fisiologi tidur.


Bioritme dan Tidur


Pada manusia dikontrol dari dalam tubuh dan disikronkan dengan faktor-faktor lingkungan seperti stimuli terang dan gelap, gravitasi dan elaktromagnetik. Bioritme yang lebih kita kenal adalah sirkadian ritme (circadian rhythm). Istilah sirkadian berasal dari bahasa Latin “circa dies” yang berarti “tentang hari”. Yang dimaksud adalah siklus dalam 24-jam atau siklus siang-malam. Tidur merupakan contoh dari sirkadian ritme. Siklus tidur-terjaga setiap hari, yang termasuk ke dalam sirkadian ritme, dipengaruhi oleh pencahayaan dan temperatur (Potter & Perry, 1993). Lebih lanjut, menurut keduanya sirkadian ritme yang juga disebut sebagai jam biologis dipengaruhi pola oleh aktivitas sosial dan rutinitas kerja. Oleh karenanya beberapa individu dapat tidur pada jam 8 malam, sedangkan yang lainnya baru dapat tidur pada tengah malam atau dini hari. Horne dan Ostberg (1976) dalam Potter dan Perry (1993) mengklasifikasikan orang kedalam dua kelompok, yaitu orang dengan tipe pagi (morning type) dan tipe sore (evening type). Dijelaskan bahwa orang yang tidur dan kemudian bangun pada dini hari, dan penampilannya terbaik pada saat pagi hari termasuk kedalam tipe pagi. Sedangkan orang yang tidur dan kemudian bangun pada sore hari serta berfungsinya terbaik pada sore hari termasuk kedalam tipe sore. Irama biologi tidur seringkali diselaraskan dengan fungsi tubuh lainnya. Perubahan temperatur, sebagai contohnya berkorelasi dengan suhu tubuh. Normalnya, suhu tubuh berada pada puncaknya di sore hari, menurun secara bertahap dan kemudian menurun dengan tajam setelah seseorang jatuh tidur (Potter & Perry, 1993).


Pengaturan Tidur


Kontrol dan regulasi tidur tergantung pada interrelasi antara dua mekanisme serebral yang bekerja saling berlawanan antara yang satu dengan lainnya. Keduanya secara intermiten mengaktivasi dan mensupresi pusat luhur di otak yang mengontrol tidur dan terjaga. Satu mekanisme menyebabkan individu terjaga, sedangkan mekanisme lainnya menyebabkan individu tertidur. Sistem pengaktifan reticular (reticular activating system/RAS) terletak dalam batang otak atas (upper brainstem). RAS diyakini mengandung sel-sel khusus yang mempertahankan keadaan siaga dan terjaga. RAS menerima input rangsang sensori visual, auditori dan nyeri serta rangsang taktil. Aktivitas dari serebral kortek (seperti emosi dan proses berfikir) juga menstimulasi RAS. Studi yang dilaporkan oleh Canavan (1984) dan Chuman (1983) dalam Potter & Perry (1993) meyakini bahwa keadaan terjaga merupakan akibat dari neuron-neuron yang ada dalam RAS melepaskan katekolamin seperti hormon norepineprin.


Karakteristik Tidur


Terdapat beberapa karakteristik dari istirahat, misalnya Narrow (1967) yang dikutip oleh Perry and Potter 1993 Mengemukakan beberapa karakteristik yang berhubungan dengan istirahat diantaranya :




  1. Merasa segala sesuatu dapat di atasi.


  2. Merasa di terima


  3. Mengetahui apa yang terjadi


  4. Bebas dari ganguan ketidak nyamanan


  5. Mempunyai sejumlah kepuasasn terhadap aktivitas yang memepunyai tujuan.


  6. Mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan

Tidur merupakan kondisi tidak sadar di mana presepsi reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau hilang dan dapat di bangukan kembali dengan stimulus dan sensori yang cukup (Guyton 1986) dapat juga di katakan sebagai keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, namun lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang dengan ciri adanya aktivitas yang minim memiliki kesadaran yang bervariasi terdapat perubahan proses fisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap rangsangan dari luar. Sekarang dapat di kategorikan sedang tidur jika terdapat tanda-tanda sebagai berikut :




  1. Aktivitas fisik minimal


  2. Tingkat kesadaran yang bervariasi


  3. Terjadi berbagai perubahan fisiologis tubuh


  4. Penurunan respon terhadap rangsaan dari luar.


  5. Selama tidur maka dalam tubuh seseorang terjadi perubahan proses fisiologis, antara lain :



  • Penurunan tekanan darah dan denyut nadi


  • Diatasi pembuluh darah perifer


  • Kadang-kadang terjadi peningkatan aktivitas traktusgastrointestinal.


  • Relaksasi otot-oto rangka


  • Basal metabolisme rate (BMR) menurun 10-30%

Pembagian tidur


Terdapat dua jenis tidur yaitu :




  1. Tidur NREM (Nonrapid Eye Movement) Tidur gelombang lambat. Tidur NREM merupakan yang nyaman dan dalam. Dalam tidur ini gelombang otak lebih lebih lambat di bandingkan pada orang yang sadar atau tidak tidur. Dengan tanda : mimpi berkurang, keadaan istirahat, tekanan darah turun, kecepatan pernafasan turun, metabolisme turun dan gerakan bola mata lambat. a. Tahap I Merupakann tahap transmisi antara bangun dan tidur dengn ciri: Rileks, masih sadar dengan lingkungan,merasa mengantuk,bola mata bergerak dari samping ke samping, frekueansi nadi dan nafas seadikit menurun, dapat bangun segera selama tahap ini berlangsung selama lima menit. b. Tahap II Merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun berciri : Mata umumnya menetap, denyut jantung dan freakuensi nafas menurun, temperature tubuh menurun, metabolisme menurun, berlangsung pendek dan berakhir 5-10 menit c. Tahap III Merupakann tahap tidur berciri : denyut nadi dan frekuensi nafas dan proses tubuh lainnya lambat, di sebabkan oleh dominasi system saraf parasimpatis dan sulit bangun. d. Tahap IV Merupakan tahap tidur berciri : Kecepatan jantung dan pernafasan turun, jaranng bergerak dan sulit di bangunkan, gerak bola mata cepat, sekresi lambunng turun, tonus otot turun. 2. Tidur REM (Rapid Eye Movement) Berlangsung pada tidur malam selama 5-20 menit, rata-rata 90 menit. Periode pertama terjadi selama 80-100 menit, namun bila kondisi orang sangat lelah maka awal tidur sangat cepat bahkan jenis tidur ini tidak ada. Bercirikan :



  1. Biasanya di sertai dengan mimpi aktif


  2. Lebih sulit di bangunkan dari pada selama tidur nyeyak gelombang lambat.


  3. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertentu.


  4. Frekuensi jantung dan pernafasan menjadi tidak teratur.


  5. Pada oto perifer terjadi bebrapa gerakan otot yang tidak teratur.


  6. Mata cepat tertutup dan cepat terbuka


  7. Nadi cepat dan inregular, tekanan darah meningkat dan fluktuasi, sekresi gaster meningkat, Metabolisme meningkat. Pada tidur ini sanngat penting untuk keseimbangan mental, emosi dan berperan dalam belajar, memori dan adaptasi.

Fungsi Tidur


Efek Fisiologis : a) Efek pada system saraf yang di perkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan di antara berbagai susunan saraf. b) Efek struktur tubuh dengn memulihkan kesegaran dan funngsi dalam organ tubuh karena selama tidur terjadi penurunan.


Fisiologi tidur. Fisiologi tidur merupakan peangaturan kegiata tudur oleh adanya hubungan mekanisme screablea yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun, Tidur merupakan aktifitas yang melibatkan susunan saraf pusat, saraf perifer Endokrin kardiosvakuler, respirasi muskuloskeletal (Robinson 1993,dalam potter). Tiap kejadian tersebut dapat di identifikasi atau di rekam dengan electreoencephalogram (EEG) untuk aktifitas listrik otak, pengukran tonus otot dengan meggunakan elektromiogram(EMG) dan elektroculogram (EOG) untuk mengukur pergeraka mata. Pengaturan dan control tidur tergantung dari hubungan antara dua mekanisme selebral yang secara bergantian mengaktifkan dan menekan pusat oak untuk tidur dan bangun. Recticular activating system (RAS) di bagian batang otak atas di yakini mampunyai sel-sel khusus dalam mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran. RAS memberikan stimulus visual,audiotori,nyeri dan ensori raba. Juga menerima stimulus dari korteks serebri. (emosi, proses, pikir). Pada keadaan sadar mengkibtkan neuron-neuron dalam RAS melepakan katekolamin misalnya norepineprine. Saat tidur mungkin di sebabkan oleh pelpasa serum serotinin dari sel-sel spesifikdi pons dan batang otak tengah yaitu Bulbarsyncronizing regional (BSR) bangun dan tidurnya seseorang tergantung dari keseimbangan implus yang di terima dari pusst otak, reseptor sensori perifer misalnya bunyi, stimulus cahaya dan system limbiks seperti emosi. Seseoranng yang mencoba untuk tidur, mereka menutup matanya dan berusaha dalam posisi rileks, jika ruangan gelap dan tenang aktifitas RAS menurun, pada saat itu BSR mengeluarkan serum serotonin.

Faktor-faktor yang mempengaruhi tidur.



  1. Penyakit Seseorang yang mengalami sakit memerlukan waktu tidur yang lebih banyak dari normal. Orang yang kehilangan tidur REM mengakibatkan waktu tidur lebih banyak dari normal. Namun demikian, keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur atau tidak dapat tidur, misalnya pada pasien degan gangguan pernafasan seperti asma,bronkitis,penyakit kardiovaskuler dan lain - lain. Gangguan endokrin tertentu dapat juga mempengaruhi tidur. Hipertiroidisme memperpanjang masa sebelum tidur (presleep), seringkali membuat sulit bagi klien untuk jatuh tidur. Hipotiroidisme dapat menurunkan tidur NREM tahap 4. Peningkatan suhu tubuh dapat menyebabkan penurunan pada tidur NREM tahap 3 dan 4, serta tidur REM. Kebutuhan untuk urinasi selama malam hari (enuresis) juga mengganggu tidur, dan orang dapat bangun di malam hari untuk urinasi kadang-kadang mengalami kesulitan untuk kembali tidur.


  2. Kelelahan Kelelahan dapat mempengaruhi pola tidur seseorang, kelelahan tingkat menengah orang dapat tidur dengan nyeyak, sedang pada kelelahan yang berlebihan akan menyebabkan priode tidur REM lebih pendek. Kelelahan dapat juga mempengaruhi pola tidur seseorang. Orang yang menglami kelelahan berlebihan memperpendek periode pertama tidur paradoksikal (REM). Pada orang yang istirahat, periode REM menjadi panjang/lama.


  3. Stres Psikologis Cemas dan depresi akan menyebabkan gangguan pada frekuensi tidur. Orang yang dipenuhi dengan problem pribadi mungkin tidak mampu untuk relak dengan cukup yang dapat membawanya menjadi tidur. Hal ini di sebabkan karena pada kondisi cemas akan meningkatkan norepirefin darah melalui sisitem saraf simpatis. Zat ini akan mengurangi tahap IV REM dan NREM. Kecemasan meningkatkan kadar norepinephrin di dalam darah melalui stimulasi sistem saraf simpatis. Zat kimia ini mengakibatkan perubahan pada berkurangnya tidur tahap IV NREM dan tidur REM serta terbangun. (Closs, 1988, hal. 49).


  4. Obat-obatan Beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan gangguan tidur yaitu : a) Diuretik : menyebabkan imsomnia b) Anti depresan : Suprnsi REM c) Kafein : Meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan tidur. d) Beta Bloker : Menimbulkan Insomnia. e) Narkotika : Mensupresi REM sehingga mudah mengantuk. f) Amfetamin : Menurunkan tidur REM


  5. Nutrisi. Makanan yang banyak maengandung L-Triptofan yang merupakan asam amino dari protein yang di cerna seperti keju,susu,daging dan ikan tuna dapat menginduksi tidur merupakan suatu fakta yang dapat menjelaskan mengapa meminum susu hangat dapat membantu banyak orang untuk tidur. Penurunan dan penambahan berat badan dapat mempengaruhi tidur. Penurunan berat badan mempunyai kaitan dengan penurunan total waktu tidur sehingga mengganggu tidur dan terjaga lebih dini. Penambahan berat badan, pada sisi lain mempunyai kaitan dengan peningkatan total waktu tidur, berkurangnya gangguan tidur dan later waking


  6. Lingkungan Lingkungan dapat meningkatkan atau menghalangi seseorang untuk tidur. Pada lingkungan yang tenang memungkinkan seseoranng dapat seseorang dapat tidur dengan nyeyak dan sebaliknya. Adanya perubahan, seperti contoh tingkat kebisingan lingkungan dapat menghalangi /mengganggu tidur. Tidak adanya stimuli yang biasanya ada atau adanya stimuli yang tidak familier/tidak biasanya ada dapat mengganggu tidur seseorang. Banyak orang dapat tidur dengan baik dilingkungan rumahnya sendiri.


  7. Motivasi Motivasi dapat mempengaruhi dan dapat menimbulkan keinginan untuk tetap bangun dan menahan tidak tidur sehingga dapat meanimbulkan gangguan proses tidur. Dorongan untuk tetap terjaga dapat mengatasi kelelahan/kepenatan seseorang. Seperti contoh, orang yang kelelahan mungkin dapat tetap terjaga dengan perhatian pada hal-hal yang diminatinya. Ketika orang bosan dan tidak mempunyai motivasi untuk tetap terjaga, maka seringkali dapat dengan mudah untuk tidur.


  8. Alkohol Alkohol menekan REM secara normal, seseorang yang tahan minum alkohol dapat menyebabkan insomnia dan lekas marah. Orang yang meminum berlebihan alkohol seringkali mengalami gangguan tidur. Alkohol yang berlebihan mengganggu tidur REM, diperkirakan dapat mempercepat onset tidur. Dapat juga menyebabkan mimpi buruk. Toleransi terhadap alkohol juga mempengaruhi tidur. Orang yang mentoleransi alkohol mungkin tidak dapat tidur dengan baik dan menjadi iritabel. Minuman yang mengandung caffein berperan sebagai stimulant terhadap sistem saraf pusat, sehingga mengganggu tidur.


  9. Usia (Tingkat Perkembangan) Usia merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kebutuhan tidur dan istirahat seseorang. Usia merupakan salah satu faktor penentu lamanya tidur yang butuhkan seseorang. Semakin tua usia maka semakin sedikit pula lama tidur yang di butuhkan. Hal tersebut dapat di lihat pada tabel di bawa ini :



  • 0-1 bulan. Masa Neonatus 14-18 jam/hari. Pernafasan teratur gerak tubuh sedikit, 50% tidur NREM. Banyak waktu tidurnya di lewatkan pada tahap II dan IV tidur NREM. Setiap siklus sekitar 45-60 menit.


  • 1 bulan - 18 bulan. Masa Bayi 12-14 jam/hari 20%-30% tidur REM. Tidur lebih lama pada malam hari punya pola terbangun sebentar.


  • 18 bulan-3 tahun. Masa Anak 11-12 Jam/Hari 25% tidur REM banyak tidur pada malam hari. Terbangun dini hari berkurang. Siklus bangun tidur normal sudah menetap pada umur 2-3 tahun.


  • 3-6 tahun. Masa prasekolah 11 jam/hari 20 % tidur REM. periode terangun kedua hilang pada umur 3 tahun. umur 5 tahun tidur tidak ada kecuali kebiasaan tidur sore hari.


  • 6-12 Tahun Masa sekolah 10 jam/hari 18,5% tidur REM. Sisa waktu tidur relative kostan.


  • 12-18 Tahun Masa Remaja 8,5jam/hari 20% tidur REM.


  • 18-40 Tahun Masa dewasa muda 7-8 jm/hari 20-25% tidur REM 5%-10% tidur terhadap I 50% tidur tahap II 10-20% tidur tahap III dan IV. 40-60


  • Tahun Masa paruh baya 7 jam/hari 20% tidur REM mungkin mengalami imsomnia dan sulit untuk dapat tidur.


  • 60 tahun ke atas Masa dewasa tua 6 jam/ hari 20%-25% tidur REM. tidur tahap IV nyata berkurang terkadang tak ada mungkin menngalami insomnia dan sering terbangun sewaktu tidur malam hari.

10. Gaya hidup Orang yang bekerja dengan shift dan seringnya perubahan shift harus menyusun aktifitas sehingga orang tersebut siap untuk tidur pada waktu/saat yang benar/tepat. Latihan yang moderat biasanya mengkonduksi tidur, akan tetapi latihan yang berlebihan dapat menyebabkan lambat/tertundanya tidur. Kemampuan seseorang untuk relak sebelum memasuki tidur merupakan faktor penting yang mempengaruhi kemampuannya untuk jatuh tidur.


11. Merokok Nikotin mempunyai efek perangsangan pada tubuh. Pada orang perokok seringkali mempunyai kesulitan untuk jatuh tidur (falling asleep) dari pada orang yang bukan perokok. Selain itu perokok biasanya lebih mudah dibangunkan dan seringkali saat tidur, orang perokok memperlihatkan gambaran seperti tidur ringan. Dengan cara menahan diri agar tidak merokok setelah makan sore, seseorang biasanya dapat tidur lebih baik; selain itu beberapa perokok melaporkan bahwa pola tidurnya membaik sehari setelah mereka menghentikan merokok.


TIDUR DAN HOSPITALISASI Hospitalisasi adalah suatu periode dimana seseorang menjalani pengobatan, perawatan dengan tinggal di rumah sakit selama waktu tertentu (Miller & Keane, 1983). Pada saat seseorang mengalami masalah kesehatan dan harus mencari fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengatasi masalahnya, maka pada saat orang tersebut masuk dan dirawat di rumah sakit, ia harus beradaptasi dengan lingkungan dan peran yang baru sesuai dengan kondisi sakitnya. Menjadi seorang pasien, mengharuskan seseorang untuk mengadopsi peran yang baru. Respon seseorang terhadap peran sebagai seorang pasien bergantung pada latar belakang keluarga dan kulturalnya, yang mengajarkan mereka bermacam-macam interpretasi dari perilaku yang tepat bagi orang sakit dan pengalaman sebelumnya sebagai orang sakit. di rawat diantaranya berhubungan dengan usia dan kebiasaan sebelum tidur. Faktor usia berpengaruh terhadap tidur seseorang. Dengan bertambahnya usia, sesorang dapat mengalami kesulitan untuk tidur, bertambah sering terbangun di malam hari dan sukar istirahat di waktu siang hari. Faktor psikologis dapat berupa rasa nyeri, perasaan cemas akan penyakitnya dan lingkungan yang berbeda dari sebelumnya dapat menyebabkan gangguan tidur (Potter dan Perry, 1993). Terdapat tiga jenis suara yang mempengaruhi tidur seseorang selama di rawat dirumah sakit, yaitu lingkungan yang bising, tindakan atau prosedur yang menimbulkan kebisingan, dan komunikasi antar staf di rumah sakit (Potter dan Perry, 1993). Tingkat kebisingan yang tercatat disuatu unit perawatan kritis antara pukul 22.15 – 03.00 berkisar antara 72-75 desibel, sama seperti suara pada sebuah kantor yang berisik (Snyder dan Halpern, 19985). Dalam suatu percobaan dengan subyek sukarelawan, menunjukan kebisingan pada unit kritis, berasal dari suara staf dan klien (Craven dan Hirnle, 2000). Hospitalisasi menimbulkan ancaman terhadap kesehatan mental klien. Menurut Ellis dan Nowlis (1994) ancaman yang dirasakan oleh klien yang dirawat di rumah sakit meliputi antara lain: a. Perubahan fisik dan kemampuan fungsional Individu yang dirawat mengalami perubahan fisik yang bervariasi mulai dari sakit ringan sampai berat. Perubahan ini membutuhkan penyesuaian terhadap citra tubuh (body image). Perubahan pada tubuhnya membuat klien merasa ragu, apakah ia masih dapat melakukan peran yang biasa ia lakukan, apa yang difikirkan orang lain tentang dirinya, apakah dengan kondisinya yang sekarang, mengubah pelakukan orang lain terhadapnya. b. Kehilangan privasi Klien yang dirawat akan diberkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi oleh beberapa orang yang berbeda. Pemeriksaan fisik dapat mengganggu kesopanan. Di rumah sakit barang-barang milik klien sering kali diperiksa, diinventaris dan disimpan disuatu tempat yang aman. Kebutuhan akan eliminasi dilakukan ditempat tidur, dimana ada orang lain di kamar tersebut dan klien hanya ditutup oleh sebuah sampiran. c. Kehilangan kontrol Pada seting rumah sakit, tindakan pemeriksaan harus dilakukan, berbagai formulir harus diisi, dan perencanaan perawatan dibuat oleh orang lain. Kondisi itu membuat klien merasa di atur. Kehilangan kontrol bisa menjadi sebuah ancaman terhadap citra diri dan kemudian menimbulkan kecemasan. d. Ketidakpastian tentang perilaku yang diharapkan Klien sering merasakan ketidakpastian tentang apa yang harus mereka lakukan. Klien bertanya-tanya bagaimana seharusnya mereka bersikap, apakah boleh bertanya, apakah ia boleh meminta obat penghilang sakit atau apakah ia akan diberikan penghilang sakit tanpa memintanya. e. Rutinitas yang asing Di rumah sakit harus mengadopsi pola hidup baru. Jadwal dan aturan di rumah sakit mungkin sangat berbeda dengan jadwal harian klien dan hal ini mengganggu rasa nyaman klien. f. Kehawatiran tentang pengeluaran Biaya kesehatan meningkatkan dengan cepat sehingga timbul kehawatiran bagi klien apakah nanti akan dapat membayar biaya kesehatan yang mahal. g. Ketidakpastian tentang hasil pengobatan. Perasaan takut dapat muncul pada klien setelah mengetahui tentang keseriusan penyakitnya. Ketakutan tentang kelanjutan dari penyakitnya yang tidak dapat diprediksi, kehawatiran tentang proses pengobatan yang lama dan kehawatiran tidak bisa bangun lagi setelah dibius. Tetapi pengungkapan secara gamblang dan lengkap tentang efek yang mungkin timbul akibat pengobatan juga menimbulkan rasa takut yang berlebihan.


ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian keperawatan


1. Riwayat tidur a) kuantitas (lama tidur) dan kualitas watu tidur di siang dan malam hari b) Aktivitas dan rekreasi yang di lakukan sebelumnya c) Kebiasaan/pun saat tidur d) Lingkungan tidur e) Dengan siapa paien tidur f) Obat yang di konsumsi sebelum tidur g) Asupan dan stimulan h) Perasaan pasien mengenai tidurnya i) Apakah ada kesulitan tidur j) Apakah ada perubahan tidur


2. Gejala Klinis a) Perasaan Lelah b) Gelisah c) Emosi d) Apetis e) Adanya kehitaman di daerah sekitar mata bengkak f) Konjungtin merah dan mata perih g) Perhatian tidak fokus h) Sakit kepala


3. Penyimpangan Tidur


1. Insomnia Pengertian insomnia mencakup banyak hal. Insomnia dapat berupa kesulitan untuk tidur atau kesulitan untuk tetap tidur, bahkan seseoranng yang terbangun dari tidur tapi merasa belum cukup tidur dapat di sebut mengalami insomnia (japardi 2002). Jadi insomnia merupakan ketidak mampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur baik secara kualitas maupun kuantitas. Insomnia bukan berarti seseorang tidak dapat tidur/kurang tidur karena orang yang menderita insomnia sering dapat tidur lebih lama dari yang mereka pikirkan, tetapi kualitasnya berkurang. Jenis insomnia yaitu : 1. Insomnia insial adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat memulai tidur. 2. Insomnia intermiten adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat mempertahankan tidur atau keadaan sering terjaga dari tidur. 3. Insomnia terminal adalah bangun secara dini dan tidak dapat tidur lagi. Beberapa factor yang menyebabkan seseorang mengalami insomnia : 1. Rasa nyeri 2. Kecemasan 3. Ketakutan 4. Tekanan jiwa kondisi 5. Kondisi yang tidak menunjang untuk tidur.


2. Parasomnia Parasomnia menunjukan suatu kelompok perilaku terjaga yang berkaitan dengan tidur. Terdapat 5 macam parasomnia, yaitu : a. Somnambulisme Merupakan gangguan tingkah laku yang sangat kompleks mencakup adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka pintu, duduk di tempat tidur, menabrak kursi,berjalan kaki dan berbicara. Termasuk tingkah laku berjalan dalam beberapa menit dan kembali tidur (Japardi 2002). Lebih banyak terjadi pada anak-anak, penderita mempunyai resiko terjadinya cidera. Tipe ini disebut juga tidur jalan (sleepwalking) terjadi selama tahap 1 dan 4 tidur NREM. Somnambulism bersifat episodik dan biasanya terjadi 1-2 jam setelah jatuh tidur. Orang yang tidur berjalan cenderung tidak memperhatikan (misalnya : jatuh dari tangga) dan seringkali memerlukan perlindungan dari injuri. b. Mengigo (Sleeptalking) Berbicara selama tidur terjadi selama tidur NREM sebelum tidur REM. Pada tipe ini jarang terdapat masalah pada yang mengalami kecuali terhadap yang lainnya. c. Enuresis Enuresis adalah kencing yang tidak di sengaja (mengompol) terjadi pada anak-anak, remaja dan paling banyak pada laki-laki, penyebab secara pasti belum jelas, namun ada bebrapa faktor yang menyebabkan Enuresis seperti gangguan pada bladder, stres, dan toilet training yang kaku. d. Ereksi tidur malam (Nocturnal erection) Ereksi dimalam hari dan mimpi basah terjadi selama tidur REM. Kondisi ini umumnya diimulai selama masa remaja dan tidak menyebabkan gangguan tidur yang bermakna. e. Bruxism Biasanya terjadi selama tahap 2 NREM, terjadi gesekan diantara gigi.


3. Narkolepsi Narkolepsi-berasal dari bahasa Greek, ‘narco‘ yang berarti ‘numbness‘ mati rasa, dan ‘lepsis‘ yang berarti ‘sizure‘ serangan-adalah suatu serangan tidur yang mendadak yang terjadi selama siang hari; oleh karena itu narkolepsi disebut juga serangan tidur “sleep attack”. Merupakan suatu kondisi yang di cirikan oleh keinginan yang tak terkendali untuk tidur, dapat di katakan pula bahwa Narkolepsi serangan mengantuk yang mendadak sehingga ia dapat tertidur pada setiap saat di mana serangn mengantuk tersebut datang. Penyebabnya secara pasti belum jelas, tetapi di duga terjadi akibat kerusakan genetikasistem saraf pusat di mana periode REM tidak dapat di kendalikan. Serangan narkolepsi dapat menimbulkan bahaya bila terjadi pada waktu mengendarai kendaraan, pekerja yanng bekerja pada alat-alat yang berputar-putar atau berada di tepi jurang.


4. Henti Nafas Saat Tidur (Sleep Apnea) Sleep apnea adalah masa henti bernafas selama tidur. Gangguan ini perlu dikaji oleh seorang yang ahli tentang tidur, tetapi sering terjadi pada orang yang tidur mendengkur dengan keras, sering terjaga/bangun dimalam hari, tidur disiang hari yang berlebihan, insomnia, nyeri kepala pada pagi hari, kemunduran intelektual, iritabel atau perubahan kepribadian lainya dan perubahan fisiologis seperti hipertensi dan aritmia jantung (Weaver & Willman, 1986, dalam Kozier, 1995). Sleep apnea lebih sering dialami laki-laki lebih dari 50 th dan wanita postmenopaus. Terdapat tiga tipe yang umum dari henti nafas saat tidur (sleep apnea) adalah sebagai berikut: a. Apnea Obstruksi (Obstructive Apnea) Tipe ini terjadi ketika struktur paring atau rongga mulut menutupi aliran udara. Orang akan terus mencoba untuk bernafas yaitu dengan bergeraknya dada dan otot abdomen. Pergerakan diafragma menjadi kuat dan kekuatan tersebut semakin meningkat samapai obstruksi dapat dihilangkan. Pembesaran tonsil, deviasi septum hidung, dan polip hidung merupakan predisposisi terjadinya abstruktive apnea. b. Apnea Sentral (Central Apnea) Tipe ini terjadi karena adanya defect pada pusat respirasi di otak. Semua kegiatan bernafas, seperti pergerakan dada dan mengalirnya udara berhenti. Klien yang mengalami injuri pada batang otak dan distropi muscular seringkali mengalami central sleep apnea. Sampai saat ini tidak tersedia pengobatannya. c. Apnea Campuran (Mixed Apnea) Sleep apnea dapat mempengaruhi penampilan kerja maupun sekolah. Selain itu sleep apnea yang lama dapat menyebabkan peningkatan tajam pada tekanan darah dan dapat juga menyebabkan aritmia jantung, hipertensi pulmoner dan kemudian kegagalan jantung kiri.


5. Night Terrors Adalah mimpi buruk, umumnya terjadi pada anak usia 6 tahun atau lebih, setelah tidur beberapa jam, anak tersebut langsung terjaga dan berteriak, pucat dan ketakutan.


6. Mendengkur Disebabkan oleh adanya rintangan terhadap pengaliran udara di hidung dan mulut. Amandel yang membengkak dan Adenoid dapat menjadi faktor yang turut menyebabkan mendengkur. Pangkal lidah yang menyumbat saluran nafas pada lansia. Otot-otot dibagian belakang mulut mengendur lalu bergetar bila di lewati udara pernafasan.


7. Hipersomnia Berlawanan dengan insomnia, yaitu tidur yang berlebihan, khususnya di siang hari. Orang hipersomnia seringkali tidur sampai pagi hari dan dapat tidur lagi selama siang hari. Hipersomnia disebabkan oleh kondisi medik seperti akibat kerusakan sistem saraf pusat dan gangguan ginjal, hati atau gangguan metabolik tertentu seperti diabetik acidosis dan hipertiroidisme. Dalam beberapa hal orang menggunakan insomnia sebagai mekanisme koping untuk menghindar dari tanggung jawab di siang hari.


B. Diagnosis Keperawatan


1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kerusakan transfer oksigen, gangguan metabolisme,kerusakan eliminasi, pengaruh obat,imobilisasi, nyeri pada kaki, takut operasi, lingkungan yang mengganggu. 2. Cemas berhubungan dengan ketidakmampuan untuk. tidur, henti nafas saat tidur,a(sleep apnea) dan keetidak mampuan mengawasi prilaku. 3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan insomnia. 4. Gangguan ukaran gas berhubungan henti nafas saat tidur. 5. Potensial cidera berhubungan dengan Semnambolisme. 6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan penyimpangn tidur hipersomia.


C. Perencanaan Keperawatan Tujuan : Perencanan keperawatan berhubungan dengan cara untuk mempertahankan kebutuhan istirahat dan tidur dalam batas normal. Rencana Tindakan : a) Lakukan identifikasi faktor yang mempengaruhi masalah tidur. b) Lakukan pengurangan distraksi lingkungan dan hal yang dapat mengganggu tidur. c) Tingkatkan aktivitas pada siang hari d) Coba untuk memicu tidur e) Kurangi potensial cedera selama tidur f) Berikan pendidikan kesehatan dan lakukan rujukan jika di perlukan.


D. Pelaksanaan keperawatan.


Tindakan keperawatan pada orang dewasa :


1. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi masalah tidur. a) Bila terjadi pada pasien rawat inap, masalah tidur di hubungkan dengan lingkungan rumah sakit, maka : • Libatkan pasien dalam pembuatan jadwal aktivitas • Berikan obat analgrsik sesuai pro • Berikan lingkungan yang suportif Jelaskan dan berikan dukungan pada pasien agar tidak takut akan cemas. b) Bila faktor insomnia maka • Anjurkan pasien memakan makanan yang berprotein tinggi sebelum tidur • Anjurkan pasien tidur pada waktu sama dan hindari tidur pada waktu siang dan sore hari. • Anjurkan pasien tidur saat mengantuk. • Anjurkan pasien mennghindari kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur • Anjurkan pasien menggunakan teknik pelepasan otot serta meditasi sebelum tidur. c) Bila terjadi somabulisme, maka : • Berikan rasa aman pada diri pasien • Bekerjasama dengan diazepam dalam tindakan pengobatan. • Cegah timbulnya cidera. d) Bila terjadi enuresa, maka : • Anjurkan pasien mengurangi minum beberapa jam sebelum tidur. • Anjurkan pasien melakukan pengosongan kandungan kemih sebelum tidur. • Bangunkan pasien pada malam hari untuk buang air kecil. e) Bila terjadi Narkolepsi, maka : • Berikan obat kelompok Amfetamin / kelomppok Metilfenidat Hidroklorida (ritalin) Untuk mengendalikan narkolepsi.


2. Mengurangi distraksi lingkungan dan hal yang mengganggu tidur. • Tutup pintu kamar pasien • Pasang kelambu/garden tempat tidur • Matikan pesawat telapon • Bunyikan musik yang lembut • Redupkan atau matikan lampu • Kurangi jumlah stimulus • Tempatkan pasien dengan kawan sekamar yang cocok.


3. Meningkatkan aktivitas pada siang hari : • Buat jadwal aktivitas yang dapat menolong pasien • Usahakan pasien tidak tidur pada siang hari.


4. Membuat Pasien untuk memicu tidur. • Anjurkan pasien mandi sebelum tidur • Anjurkan pasien minum susu hangat. • Anjurkan pasien membaca buku • Anjurkan pasien menonton televisi • Anjurkan pasien menggosok gigi sebelum tidur • Anjurkan pasien embersihkan muka sebelum tidur • Anjurkan pasien membersuihkan tempat tidur


5. Mengurangi potensial cedera sebelum tidur • Gunakan cahaya lampu malam. • Posisikan tempat tidur yang rendah. • Letakkan bel dekat pasien. • Ajarkan pasien untuk meminta bantuan • Gantungkan selang Drainase di tempat tidur dan cara memindahkannya bila pasien memakainnya.


6. Memberi pendidikan kesehatan dan rujukan. • Ajarkan rutinitas jadwal tidur di rumah. • Ajarkan pentingkan latihan reguler ± ½ jam. • Penerangan tentang efek samping obat hipnotik • Lakukan rujukan segera bila gangguan tidur kronis.


Tindakan Keperawatan Pada Anak 1. Masa Neonatus Dan bayi • Beri sprai kering dan tebal untuk menutupi perlak. • Hindarkan pemberian bantal yang terlalu banyak. • Atur suhu ruangan menjadi 18o-21o C pada malam dan 15,5o-18o C pada siang. • Berikan cahaya lampu yang lembut • Yakinkan bayi merasa nyaman dan kering. • Berikan aktivitas yang tenang sebelum menidurkan bayi. 2. Masa Anak • Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten. • Tempel jadwal tidur • Berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur. • Dukung aktivitas ”pereda ketegangan” seperti bercerita. 3. Masa Sebelum Sekolah • Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten. • Tempel jadwal tidur • Berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur. • Dukung aktivitas ”pereda ketegangan” seperti bercerita • Sering perlihatkan ketergantungan selama menjelang tidur. • Berikan rasa aman dan nyaman • Nyalakan lampu agak terang 4. Masa Sekolah • Mengingatkan waktu istirahat dan tidur karena umumnya banyak beraktivitas. 5. Masa remaja • Usia ini sering memerlukan waktu sebelum tidur cukup lama untuk berias dan membersihkan diri 6. Masa Dewasa (Muda, Paruah Baya, dan Tua) a) Bantu melepaskan ketegangan sebelum tidur. • Berikan hiburan. • Kurangi rasa nyeri. • Bersihkan tempat tidur. b) Membuat lingkungan menjadi aman serta dekat dengan perawat. • Berikan selimut sehingga tidak kedinginan. • Anjurkan pasien latihan relaksasi. • Berikan makan ringan atau susu hangat sebelum tidur. • Berikan obat sedaktif sesuai program terapi kolaboratif. • Bantu pasien mendapatkan posisi tidur yang nyaman.


E. Evaluasi Keperawatan. 1. Klien menggunakan terapi relaksasi setiap makan malam sebelum pergi tidur dengan meminta klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur. 2. Klien melaporkan perasaan nyaman setelah terbangun di pagi hari dengan meminta klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur. 3. Klien melaporkan dapat menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan dalam 4 minggu dengan mengobservasi ekspresi dan prilaku nonverbal pada saat klien terjaga. 4. Pola tidur normal untuk masa anak adalah 11-12 jam /hari terpenuhi, masa sekolah 10 jam/hari terpenuhi, masa remaja 7-8 jam/hari terpenuhi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar